Siswa SD di NTT Bunuh Diri Usai Tak Bisa Beli Buku dan Pensil

Daftar Isi
DOKUMENTASI GAMBAR: 
Jika saat klik link mengarah ke situs lain atau ke iklan, langsung tekan kembali (back) dan klik ulang linknya untuk melihat gambar tanpa sensor.

Peristiwa memilukan terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang. Kejadian ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetangga, serta para guru dan teman sekolahnya.

YBS dikenal sebagai anak yang pendiam namun ramah. Ia jarang terlihat murung dan tetap rajin bersekolah meski hidup dalam keterbatasan ekonomi. Bernardus H Tage, Camat Jerebuu, menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan para tetangga, YBS adalah anak yang baik dan cerdas. Meski berasal dari keluarga kurang mampu, ia tetap menunjukkan semangat belajar yang tinggi.

Sehari sebelum kejadian, YBS sempat menginap di rumah ibunya. Pada malam itu, ia meminta dibelikan buku dan pensil untuk keperluan sekolah. Namun, sang ibu yang tidak memiliki cukup uang belum dapat memenuhi permintaan tersebut. Ayah kandung YBS telah meninggal dunia saat ia masih dalam kandungan. Sejak kecil, YBS tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak mudah.

Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang telah berusia 80 tahun. Sementara itu, ibunya bersama bapak tiri dan lima saudaranya tinggal di kampung sebelah. Menurut keterangan aparat setempat, YBS jarang mendapatkan perhatian penuh karena kondisi keluarga yang kompleks. Meski demikian, ia tetap berusaha menjalani hari-harinya dengan sederhana.

Pada Kamis pagi, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah neneknya. Pagi itu seharusnya ia berangkat ke sekolah. Sehari sebelumnya, sang ibu menitipkannya kepada tukang ojek sekitar pukul 06.00 Wita untuk kembali ke rumah neneknya. Sebelum berpisah, ibunya sempat menasihati agar ia rajin bersekolah dan memahami kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.

Beberapa jam kemudian, warga yang tengah mengurus ternak di sekitar rumah neneknya menemukan YBS dalam kondisi tidak bernyawa. Kabar tersebut segera menyebar dan mengundang duka mendalam. Aparat Polres Ngada yang melakukan pemeriksaan menemukan secarik kertas bertulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada. Surat itu diduga kuat merupakan pesan terakhir YBS untuk ibunya.

ISI SURAT:

Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)

Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)

Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)

Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)

Di akhir tulisan tangan ini ada gambar dengan emoji menangis.

Isi surat tersebut mengungkapkan pesan perpisahan yang sederhana namun menyayat hati. Ia meminta sang ibu untuk merelakan kepergiannya dan tidak menangis atau mencarinya. Di bagian akhir surat, terdapat gambar wajah dengan emoji menangis. 

Pihak kepolisian, melalui Kasi Humas Polres Ngada Ipda Benediktus E. Pissort, membenarkan bahwa surat tersebut diduga ditulis oleh korban. Hal itu diperkuat dengan hasil pencocokan tulisan tangan korban di buku-buku sekolahnya.

Tragedi ini memantik keprihatinan banyak pihak. Di tengah semangat pemerataan pendidikan dan berbagai program bantuan, masih ada anak-anak yang berjuang dalam keterbatasan hingga merasa tertekan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap kesejahteraan anak, baik secara ekonomi maupun emosional, sangatlah penting.

Duka yang menyelimuti Dusun Sawasina kini bukan hanya tentang kehilangan seorang anak, tetapi juga tentang harapan yang terputus. Warga setempat berharap kejadian serupa tidak terulang, dan semakin banyak pihak yang peduli terhadap kondisi anak-anak di daerah terpencil, agar mereka tetap merasa didukung, diperhatikan, dan memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.

Posting Komentar