TRAGEDI PETASAN PEMALANG 2013
Pada Rabu, 7 Agustus 2013, sebuah tragedi memilukan terjadi di Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah. Seorang pemuda bernama Ahmad Muhtohar meregang nyawa akibat ledakan petasan raksasa yang dinyalakannya sendiri.
Di banyak daerah di Indonesia, termasuk Pemalang, bermain petasan saat bulan Ramadhan sudah menjadi tradisi turun-temurun. Meski pemerintah telah melarang karena berbahaya, kebiasaan ini tetap dilakukan oleh sebagian warga sebagai hiburan menjelang waktu berbuka dan Lebaran.
Warga Desa Semingkir memiliki tradisi jalan pagi setelah salat subuh selama Ramadhan. Biasanya, kegiatan ini berakhir di lapangan desa tetangga, tempat digelarnya “perang petasan” antar-RT. Setiap wilayah mengirimkan wakil untuk mengadu petasan dengan suara paling keras. Tanpa aturan tertulis, banyak warga merakit petasan sendiri demi menjaga gengsi.
Menjelang akhir Ramadhan, pihak kepolisian sempat melakukan razia untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, petasan rakitan telah disembunyikan warga sehingga razia tidak menemukan barang bukti.
Pada pagi itu, suasana masih terlihat seperti hari-hari sebelumnya. Warga berkumpul, menunggu pertunjukan petasan. Tiba-tiba, tiga pemuda datang membawa petasan raksasa berukuran sekitar 1,5 meter dengan diameter lebih dari 20 cm ke bantaran Bendung Semingkir.
Alih-alih membubarkan diri, warga justru menunggu petasan tersebut dinyalakan. Dua pemuda, salah satunya Ahmad Muhtohar yang mengenakan sweater biru, bersiap menyalakan sumbu. Sementara satu pemuda lain dengan jaket hitam berdiri agak menjauh.
Namun, belum sampai satu detik setelah api menyentuh sumbu, petasan tersebut langsung meledak. Ketiga pemuda terlempar, disertai suara ledakan keras dan kepulan asap yang menyelimuti area sekitar hingga radius ratusan meter.
Dalam kejadian itu, pemuda berjaket hitam hanya mengalami luka ringan. Sementara Irfan Zaeni, yang mengenakan baju merah, mengalami luka berat pada kakinya. Ahmad Muhtohar, yang menyalakan petasan, tidak sadarkan diri dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Warga yang berada di lokasi langsung panik. Tangisan dan teriakan histeris terdengar saat asap mulai menipis dan para korban terlihat di tanah.
Jenazah Ahmad Muhtohar dimakamkan pada hari yang sama. Sementara Irfan Zaeni dilarikan ke Rumah Sakit Ortopedi Purwokerto untuk menjalani perawatan intensif. Meski kakinya harus diamputasi, nyawanya berhasil diselamatkan.
Menurut keterangan ibunda Irfan, kondisi putranya kini sudah membaik. Ia bahkan telah bekerja di Kalimantan dan menggunakan kaki palsu untuk beraktivitas.
“Alhamdulillah sudah sehat,” ujar sang ibu.
Saat ini, Irfan yang dikenal dengan nama Ipan juga aktif di media sosial, khususnya TikTok dan sempat mengunggah klarifikasi tentang insiden petasan yang hampir merenggut nyawanya.
Tragedi Pemalang 2013 meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat. Sejak kejadian tersebut, tradisi perang petasan di Desa Semingkir resmi dihentikan demi keselamatan bersama.

Posting Komentar