Depresi Gagal Nikah, Seorang Gadis Berprofesi Guru TPA di Makassar Nekat Gantung Diri

Daftar Isi
WARNING! Link berisi dokumentasi video mengenai kematian, kekerasan tingkat tinggi, dan peristiwa tragis lainnya. Disarankan menonton dengan hati-hati dan bijak.
DOKUMENTASI TANPA SENSOR: 

Jika saat klik link mengarah ke situs lain atau ke iklan, langsung tekan kembali (back) dan klik ulang linknya untuk melihat video tanpa sensor.

Peristiwa tragis mengguncang warga Makassar pada Minggu sore, 1 Maret 2026, bertepatan dengan suasana menjelang waktu berbuka puasa. Seorang gadis berusia 28 tahun bernama Suriana, yang akrab disapa Ustadzah Sophia, ditemukan meninggal dunia gantung diri di kamar pondoknya sekitar pukul 16.00 WITA. Korban diketahui berprofesi sebagai guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Sekolah Qur’an Imam Muslim, sebuah lembaga pendidikan keagamaan di kawasan Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya.

Kepergian Suriana sontak mengejutkan rekan-rekan pengajar, para santri, serta warga sekitar. Selama ini ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, santun, dan religius. Dalam kesehariannya, ia mengenakan cadar dan aktif membimbing anak-anak membaca serta menghafal Al-Qur’an. Tak ada yang menyangka bahwa di balik sikapnya yang tenang dan periang, tersimpan beban batin yang berat.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, sebelum kejadian Suriana sempat mengikuti salat Ashar berjamaah bersama para guru dan santri. Seusai ibadah, beberapa rekan mengajaknya pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan berbuka puasa. Namun, ia menolak dengan alasan kurang enak badan dan memilih kembali ke kamar pondoknya yang berada di lantai dua gedung sekolah. Ia mengatakan ingin melanjutkan tadarus Al-Qur’an serta menunaikan salat sunnah.

Ketika rekan-rekannya pulang dari pasar, mereka mencoba memanggil Suriana untuk bersiap berbuka bersama. Namun, panggilan tersebut tidak mendapat respons. Rasa curiga mendorong mereka untuk memeriksa kamar korban. Saat itulah Suriana ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Peristiwa itu segera mengundang kepanikan dan duka mendalam di lingkungan pondok serta masyarakat sekitar.

Di dalam kamar, suasana tampak hening. Perlengkapan ibadah seperti mukena, sajadah, dan Al-Qur’an masih terhampar. Di atas kitab suci tersebut ditemukan secarik surat yang diduga merupakan pesan terakhir korban kepada keluarganya. Dalam surat itu, ia menyampaikan permohonan maaf serta meminta agar jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Soppeng.

Informasi yang beredar di lingkungan terdekat menyebutkan bahwa Suriana diduga mengalami tekanan emosional terkait persoalan asmara. Ia disebut-sebut tengah menjalani proses taaruf dengan seorang pria di kampung halamannya. Namun, hubungan tersebut tidak berlanjut ke jenjang pernikahan karena pihak pria memilih calon lain. Kabar itu diduga menjadi pukulan berat bagi korban, meski selama ini ia tidak banyak menunjukkan perubahan sikap yang mencolok.

Kepergian Suriana meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga dan para muridnya di TPA. Banyak yang mengenangnya sebagai sosok pendidik muda yang berdedikasi dan penuh kasih terhadap anak-anak didiknya. Jenazahnya telah dipulangkan ke kampung halaman di Soppeng untuk dimakamkan sesuai permintaan keluarga.

Pihak yayasan dan rekan-rekan pengajar berencana menggelar doa dan pengajian bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental kerap tersembunyi di balik keseharian seseorang. Dukungan emosional dan kepedulian lingkungan sekitar sangat dibutuhkan, terutama bagi mereka yang tengah menghadapi tekanan hidup.

Bagi siapa pun yang merasakan tekanan berat atau pikiran menyakiti diri sendiri, penting untuk segera mencari bantuan kepada keluarga, sahabat, tokoh agama, atau tenaga profesional. Berbicara dan meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk menemukan jalan keluar yang lebih baik.

Posting Komentar