Tragedi Songgoriti 2009
Tragedi Songgoriti 2009 tercatat sebagai salah satu peristiwa paling mengguncang Malang Raya. Dini hari 16 April 2009, udara Kota Batu masih diselimuti hawa dingin pegunungan ketika sebuah Daihatsu Taruna melaju di Jalan Panglima Sudirman. Jalanan relatif sepi, lampu-lampu kota temaram, dan kabut tipis turun perlahan. Tak ada yang menyangka, beberapa saat kemudian, sembilan nyawa muda akan berakhir dalam satu hentakan sunyi.
Diketahui, Rombongan tersebut terdiri dari 17 mahasiswa berasal dari Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Merdeka, dan ITN. Mereka menuju salah satu vila di Songgoriti untuk merayakan ulang tahun (ultah) salah satu teman. Mereka menggunakan dua mobil dan beberapa sepeda motor.
Beberapa jam kemudian, satu mobil yang ditumpangi sembilan mahasiswa meninggalkan lokasi pesta. Mereka adalah Firdaus Sastroasal asal Sumenep, Rois Badridan Imron Rosadi asal Lumajang, Riani Erniati asal Pasuruan, Dwi Rani Kusmoyo asal NTB, Mutia Soni Agustin asal Pasuruan, Nia dan Mareta Madani asal Sidoarjo.
Nahas, setibanya di jalanan menurun, mobil yang melaju kencang itu oleng hingga menabrak sebuah pohon angsana di tepi jalan dekat SPBU Lahor, Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu. Benturan tersebut membuat bagian depan mobil ringsek tak berbentuk.
Warga sekitar yang mendengar suara benturan keras langsung berlarian ke lokasi.
Mobil itu ditemukan dalam kondisi ringsek total setelah menghantam sebatang pohon angsana di tepi jalan. Bagian depan hancur tak berbentuk, bodi terlipat, kaca pecah berhamburan. Namun pohon yang ditabrak tetap berdiri kokoh. Kulit batangnya hanya sedikit terkelupas, seolah benturan dahsyat itu tak cukup kuat untuk melukainya. Kontras itulah yang pertama kali memantik tanda tanya.
Tak ada suara teriakan minta tolong. Hanya suasana sunyi mencekam yang terasa saat pintu mobil dibuka. Sayup-sayup terdengar suara dengkuran. Darah berceceran di dalam mobil.
Ketika kendaraan pertama kali ditemukan dan petugas datang, sembilan mahasiswa dari beberapa universitas itu sudah tak bernyawa. Posisi tubuh mereka hampir tak berubah dari sikap duduk. Seolah semuanya terjadi dalam satu detik yang tak memberi kesempatan untuk bereaksi.
Polisi menyimpulkan peristiwa tersebut sebagai kecelakaan tunggal. Dugaan awal menyebut mobil melaju dengan kecepatan tinggi lalu kehilangan kendali. Versi lain menyebut kemungkinan ban pecah sebelum tabrakan. Namun laporan forensik dan detail penyelidikan tak pernah dipublikasikan secara utuh. Ruang kosong informasi itu lambat laun diisi oleh desas-desus dan cerita yang berkembang dari mulut ke mulut.
Salah satu rumor yang beredar menyebut para korban sebelumnya merayakan ulang tahun seorang teman di sebuah vila di kawasan Songgoriti. Beberapa warga mengaku mendengar musik keras pada malam sebelumnya. Isu pesta alkohol pun mencuat. Meski demikian, tidak pernah ada keterangan resmi yang menyatakan adanya pengaruh minuman keras atau zat terlarang. Polisi juga tidak mengungkap unsur lain di luar fakta bahwa mereka memang berkumpul untuk merayakan momen kebersamaan.
Nama Songgoriti sendiri sudah lama lekat dengan nuansa mistis. Kawasan itu dikelilingi situs peninggalan Majapahit, punden-punden tua, dan sumber air panas yang diyakini sebagian warga memiliki nilai sakral. Cerita tentang kabut putih yang turun tiba-tiba, bayangan gelap di tepi jalan, hingga suasana “wingit” yang terasa berat kerap terdengar dari para sopir yang enggan melintas larut malam menuju arah Payung. Bagi sebagian orang, wilayah itu bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang yang dipercaya memiliki penjaga tak kasatmata.
Ketika sembilan mahasiswa tewas serentak dalam satu kendaraan yang hancur, sementara pohon tetap tegak tanpa luka berarti, spekulasi pun menguat. Ada yang memandangnya sebagai murni kecelakaan akibat kelalaian dan faktor teknis. Ada pula yang melihatnya sebagai peristiwa yang menyentuh sisi lain—peringatan dari alam, atau sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika semata. Waktu kejadian yang bertepatan dengan dini hari, jam-jam yang sering diasosiasikan dengan kesunyian paling pekat, semakin menambah aura mencekam di sekeliling kisah ini.
Namun di balik semua misteri dan mitos yang menyelimuti, tragedi itu tetaplah tentang sembilan kehidupan muda yang terhenti terlalu cepat. Tentang keluarga yang kehilangan, tentang sahabat yang tak lagi kembali. Fakta dan cerita berkembang berdampingan, membentuk lapisan-lapisan ingatan kolektif yang sulit dipisahkan.
Hingga kini, Tragedi Songgoriti bukan hanya dikenang sebagai kecelakaan maut, tetapi juga sebagai kisah yang berdiri di antara dua dunia: penjelasan rasional dan kepercayaan akan hal-hal yang tak kasatmata. Sebuah peristiwa yang meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, dan terus hidup dalam ingatan warga sebagai malam ketika sunyi terasa lebih berat dari biasanya.

Posting Komentar